Rabu, 31 Oktober 2012

Cerpen


Rindu kepada Filip
Sebuah Cerpen
Oleh Iswan Sual

Sepulang sekolah Filip langsung tidur-tiduran di kamarnya. Melepas kepenatan oleh degungan sisa-sisa gaduh murid-muridnya yang susah diatur di sekolah. Filip adalah seorang guru honor yang telah tiga tahun mengabdi di kampungnya. Sewaktu menawarkan diri untuk mengajar di sebuah SD dan SMP di kampungya, dia urung membicarakan soal gaji. Yang ada di benaknya adalah bagaimana agar bisa mengajar anak-anak kampung. Seolah dia punya nasar bahwa tiga tahun dia akan mengajar di bekas sekolahnya itu. Katanya, dia ingin bertemu guru-guru yang pernah mengajarinya, terlebih bertemu dengan guru yang sudah meninggal tiga tahun lalu−Herdi Bella. Guru Bahasa Inggris dan Pendidikan pancasilanya. Aneh, sudah meninggal tapi ingin ditemui. Lebih aneh lagi kenapa ke sekolah bukan kuburnya? Aku sendiri tak mengerti dengan jalan pikiran kakakku itu. Dia suka mengajar tapi ingin menjadi guru PNS. “Kalu torang so jadi PNS, so nyanda tulus torang mengajar. Yang torang pikir korang gaji. So nyanda bisa kreatif. Karena kreatifitas tak diperlukan dalam lembaga yang talalu strukturalis. Jabatan adalah segalanya. Profesionalitas cuma slogan.  Kepatuhan, yes bos, itu yang lembaga itu perlu. Kalu ngana PNS itu harga mati. Beda to kalu ngana cama guru honor?Kata Filip sewaktu aku coba-coba mengorek masalah itu di suatu sore.
Tapi yang kulihat dia sangat menikmati pekerjaannya. Dengan gaji yang jauh di bawah Upah Minimum Propinsi tak menghalanginya untuk berbagi. Tidak jarang aku diberi uang. Bahkan murid-muridnya, yang tak punya alat tulis menulis atau kamus, dibelikannya. Orang lain tunggu kaya dulu baru memberi. Dia justru dengan gaji empat ratus ribu sering memberi. Presiden sudah  gaji besar ditambah tunjangan tak terbilang pula, masih saja melobi ke DPR agar minta dinaikan gajinya.
Aku bangga punya kakak seperti Filip. Orang yang terus memberi meski dari kekurangannya. Andai saja petinggi di negeri ini seperti dia, barangkali sudah hampir setengah abad tak yang miskin di Indonesia.
“Nawsi, mulai sekarang, ngana yang jemput papa di kobong kalu so pulang skola,” kata Filip di kala aku baru bangun dari tidur di suatu pagi.
Dahiku penuh kernyitan ketika mendengar kalimat pendek nan padat itu. Dia pun terus menerus memandangi aku yang berbalut seragam putih abu-abu. Tatapan bangga dan penuh harap. Padahal di sekolah begitu urak-urakan dan belum sedikitpun apa masa depan yang selalu Filip bilang.
“Apa penghalangnya hingga dia takkan lagi menjemput ayah setiap sore di kebun?  Apakah dia sedang sakit? “ tanyaku dalam hati dengan penasaran.
Ah entahlah. Enggan aku bertanya. Tak ingin aku mendengar kalimat-kalimat lain yang sarat makna dan nasihat keluar dari mulutnya. Bukan karena aku meremehkan semua itu. Otakku saja yang tak bisa mencerna. Rasanya sudah cukup semua petuah yang diucapnya. Yang perlu dilakukanku sekarang adalah menunaikannya.
Tambah lagi, kedalaman berpikir kakakku terlampau di luar jangkauanku. Mungkin buku-buku yang terpajang di lemari telah merubah dia menjadi orang yang berkepribadian lain. Seorang yang terlampau intelek di udik yang terisolasi ini. Bak Swami Vivekananda atau Rabindranath Tagore di India.
Dulu sewaktu masih kecil-kecil di antara kami tiada batas. Kami bermain bersama. Lama sudah itu segalanya berubah. Dia tak lagi suka bermain. Lebih tertarik bercokol kitab-kitab tebal. Tinggal senyum ramah dan kata-kata penyemangat yang belum pergi dari dirinya. Dia tetap hanyat dan bersahabat. Hanya…
“Besok, kita berangkat ke Makassar. Pra-tugas sebagai Fasilitator Program Pemberdayaan Masyarakat,” penjelasannya menambah kebingunganku. Deretan kata-kata di kalimat terakhir terasa asing. Hanya dia yang paham. Mulutku yang terbuka ditemani mata melotot berpura-pura menunjukkan pengertian dan pemahaman. Tidak tahunya aku seperti seorang wisatawan asing yang buta trein sama sekali. Mudah dibodohi oleh orang-orang setempat yang suka iseng.
***
Sekarang Filip telah berada jauh dari kami. Karena pekerjaan dia dan kami terpisah oleh samudera yang luas.Setelah kepergiannya pada hari minggu, kini aku sadar. Tanggungjawabnya telah beralih padaku. Kemangkirannya menjadikan aku anak tertua di keluarga ini. Kini aku insyaf seperti apa menjadi seorang kakak dalam keluarga. Beban dan tanggungjawab dipikulnya sendiri.  Aku juga sadar selama ini aku menjadi beban baginya. Tapi tak dikeluhkannya. Filip kakakku, aku merindukanmu. Meski di sana, ingatlah aku selalu bangga padamu. Kaulah suri teladanku.

Marore, 10 Oktober 2012
Pukul  19.57

Kumpulan Puisi Engrike Keintjem (Siswi kelas 9 SMP Kristen Tondei)


Uang

[Engrike Keintjem]

Saat aku ingin berbelanja
Kaulah yang selalu ku beri
Kau sangat berguna bagi kami
                Uang,
                Kau selalu ada di mana-mana
                Bahkan di dompet ayahku
                Kau juga ada
Uang,
Kaulah sumber kebutuhan kami…
Semua orang bekerja keras
Hanya untuk mendapatkan
Engkau…
                Uang,
                Tapi kadang kau yang menjadi
                Sumber masalah bagi kami
                Banyak orang yang selalu salah
                Menggunakan engkau
Baik untuk kejahatan, pembunuhan
Dan banyak orang juga yang
Menjadi berdosa karena selalu
Mengambil engkau dari orang lain
                Uang,
                Banyak orang yang telah
                Memiliki engkau…
                Tapi,…
                Banyak orang juga tidak
                Memiliki engkau
Uang,
Aku selalu ingin kau selalu
Ada untuk semua orang…
Dan, menjadi sumber kehidupan
Bagi kami
                Uang,
                Teruslah ada untuk kami
                Agar kami bias terus
                Hidup…dan menikmati
                Indahnya hidup

Tondei, Rabu 5/9/2012


Alam

Saat ku rasakan nyamannya
Tinggal di dekatmu…
Aku selalu ingin terus-menerus
Berdekatan denganmu
                Alam, karena dirimulah aku
                Sering mendapat inspirasi
                Aku menggunakan dirimu
                Sebagai tempat pengetahuanku
Tapi, kadang kala
Kebanyakan orang sering
Merusak engkau dan
Menjadikan engkau
                Sebagai tempat pelampiasan mereka
                Karena itu juga yang menciptkan
                Sering marah karena ulah kami
Alam, maafkanlah kami
Karena sering memperburuk dirimu…
                Alam, teruslah bersamaku
                Di akhir hayat nanti

6/9/2012
6/9/2012

Pramuka

Dari banyaknya kegiatan
Sekolah yang ada
Hanya kaulah yang
Sangat kugemari
                Pramuka
                Kau selalu mengajarkan aku
                Akan rasa kekompakkan, persaudaraan
                Bahkan kebersamaan
Pramuka
Kau juga mengajarkan aku
Tentang kemandirian dan
Tidak bergantung pada orang lain
                Jiwa pemberani, penolong, ksatria
                Pahlawan selalu ada padamu
Pramuka
Kau mengajarkan aku
Tentang rasanya berbagi
Kepada sesame teman
                Teman
                Teruslah melekat pada diri
                Dan jiwaku
6/9/2012

Nasihat

Pada waktu ayahku
Mengajarkan artinya engakau…
Pada waktu itu juga
Aku sering menghiraukan engkau…
                Tapi, apa yang sering aku
                Dapat saat menghiraukan
                Engkau
Aku sering mendapat
Ganjaran yang setimpal
Karena sering menghiraukan
Engkau…
                Nasihat
                Maafkalah aku karna sering
                Tidak  menghiraukan engkau…
                Aku akan berjanji tuk
                Tidak menghiraukan engkau lagi…
Karena tanpa kau
Hidupku terasa tak
Berguna…
6/9/2012

Ilmu

Ilmu bagaikan perisai bagiku
Kemanapun ku berada
Ku selalu membutuhkan engkau….
                Kau selalu membuat diriku
                Terasa berani dan kelihatan
                Seperti dihormati
Ilmu
Setiap orang yang bertanya
Tentang apapun aku
Selalu terlihat brani menjawabnya…
Itu semua karna kau
                Selalu bersarang di diriku
                Kau membuat diriku selalu
                Ingin tahu tentang apapun
Ilmu
Tanpa dirimu aku terlihat
Seperti orang yang bodoh
                Ilmu
                Teruslah ada padaku dan
                Tetap bersarang di diriku

6/9/2012

Sepatu

Ketika diriku ingin pergi
Ka selalu ada bersamaku…
Kau coba melindungi kakiku
Agar tak terkena panas…
                Sepatu
                Tanpa dirimu aku tak berani
                Keluar rumah..
                Kau selalu rela dirimu saja
                Yang terkena panas
Kau selalu ku injakkan
Kemanapun ku berada
Bahkan dengan semau
Keinginanku sendiri
                Sepatu
                Kau selalu menemani harihariku
                Bahkan kau tak bosanbosannya
                Bersamaku
Sepatu
Teruslah menjadi sahabatku
Sampai aku tua nanti

Tondei ,7/9/2012

Bendera

saat ku mulai bersekolah
aku sering melihat dirimu
yang selalu berkibar tanpa
henti-hentinya
                setiap hari senin kami
                mengadakan upacara…hanya
                untuk mengenang jasa-jasa orang
                yang telah mendirikan engkau…
bendera
kau adalah lambang kemerdekaan kami
kau adalah lambang negara kami dan
kau adalah lambang keberanian
dan kesucian kami
                bendahara
                teruslah berkibar di ujung
                tiang yang tinggi di
                Negara tercinta ku ini

Tondei ,7/9/2012

Musik

Saat diriku merasa kesepian
Kau selalu ada untuk ku
Dengar…
Kau selalu menjadi sumber inspirasi bagiku…
                Kau seolah-olah membawaku
                Ke duniamu dan mengikuti
                Irama jejak hidupmu…
Kau selalu membuatku
Merasa bahwa aku
Sama seperti dirimu
Yang selalu membuat
                Nada-nada yang indah
                Lagu-lagu yang merdu
                Bahkan
                Bunyi-buyi yang memukau hati
Musik
Selalu jadikan diriku
Sama sepertimu
Agar ku bias rasakan
Bagaimana jadi dirimu

Tondei ,7/9/2012

Mimpi

Saat aku ingin tidur
Aku selalu ingin kau
Datang menghampiriku…
                Aku ingin melihat apa
                Yang ingin aku lihat…dan
                Tak pernah ku lihat
Mimpi
Tanpa dirimu aku sama
Seperti dengan orang
Yang tak punya
Kebahagiaan dan kesuksesan
                Mimpi
                Tak semua orang bisa kau
                Datangi… tapi, aku
                Berharap kepada Tuhan
                Agar ka uterus mendatangiku
Setiap malam, bahkan
Setiap waktu…
Selalulah menjadi
Bunga tidurku

Tondei ,7/9/2012

Negara

kau tempat di mana
aku tinggal dan
di mana aku bertedu…
                kaulah tempat aku mengabdi
                dan tempatku mencurahkan
                isi hatiku
Negara
Jika kau tak pernah ada
Di manakah aku
Tinggal, dimanakah aku
Mengabdi…
                Negara
                Kau sangat ku dambakan
                Kau sangat ku cintai
                Dan kau sangat kukagumi
Negara
Teruslah menjadi kebanggaanku
Dan teruslah menjadi
Tempat tinggalku

Tondei ,7/9/2012

Senyum dan Semangat

Senyum
Kau bagaikan semangat bagiku
Di saat ada yang
Mematahkan semangatku
Tapi aku selalu melawannya
Dengan senyuman…
                Semangat
                Di saat ku mulai
                Lelah akan hidup ini
                Kau selalu mengingatkan
                Aku akan apa artinya
                Senyuman
Senyum
Teruslah menjadi semangatku
Dan
Semangat
Teruslah menjadi senyumku…

Tondei, 8/9/2012

Kupu-kupu

Aku sangat ingin sepertimu…
Kau bisa terbang, melayang,
Bahkan kau bisa apa
Yang ku tak bisa
                Kupu-kupu
                Ajarkanlah aku sama seperti
                Yang bisa terbang…dan
                Menikmati indahnya hidup ini
                Tanpa ada beban sedikitpun
Kupu-kupu
Sering aku katakana kepada
Orang-orang di sekitarku bahwa
Indahnya dan begitu
Senangnya menjadi dirimu
                Kupu-kupu
                Bawalah aku terbang
                Bersamamu dan jangan
                Antar aku pulang kembali…

Tondei, Selasa 11/9/2012

Lautan

Saat ku lihat engkau
Aku sering mengatakan
Betapa menakjubkannya
Engkau…
                Airmu yang segar…membuat
                Orang-orang sering terpesona akan
                Keindahanmu…
Ombakmu yang indah
Dilihat juga membuat
Aku kagum melihatmu…
                Tapi, terkadang ketika
                Tuhan marah karna kecerobohan
                Kami…kau selalu menjadi sumber
                Ketakutan bagi kami
Airmu yang segar terkadang
Masuk ke rumah-rumah warga
Ombakmu yang indah juga
Menghantam rumah-rumah warga
Dan itu membuat kami takut
                Lautan
                Janganlah menjadi bencana bagi kami
                Tapi, jadilah sumber kehidupan
                Dan ,kesenangan bagi kami…

Tondei, 11/9/2012

puisi


Feisbuk Pe Kerja

ni so bukang malam lei
matahari smo amper kaluar e
mar mata blum suka tatutu
panta masi suka dudu

jarejare manari trus di atas tuts
dapa rasa masi fruk
ta pe mata ternyata nyanda "wuruk"
sadiki le ayang smo bakuku

ini samua karna feisbuk
so rupa orang sibuk
lupa isi akang tu puru
saki mag ka ruma saki mo rujuk

mo brenti mar tagantong
pe banyak ba laik deng komen
jadi narsis
tatawa sandiri korng sam iblis

woi sadar woi
jang nya tasisa di popoji doi
bis itu baminta ki'i
nyanda malu ngoni?

Makassar, Senin ampersiang, 17 September 2012

cerpen


MUTIARA TERABAI
[Sebuah Cerpen Oleh Iswan Sual]

Buah rambutan bergantung rapat di tiap-tiap terung sepanjang pinggiran jalan. Mobil-mobil bergantian mampir. Ada yang dimakan di tempat. Ada juga yang ikut dibawa dalam mobil. Sudah tersohor bahwa buah rambutan di kampung ini rasanya manis dan kulitnya tebal. Di kampung ini, setiap halaman rumah seolah disyaratkan menanam paling sedikit dua pohon. Keuntungannya ganda. Selain mengurangi panas di pemukiman. Juga memberikan tambahan penghasilan. Malahan, bukanlah lagi hanya sebagai tambahan.  Itu sudah merupakan salah satu sumber penghasilan pokok. Maklum, tanah-tanah perkebunan warga banyak yang sudah berpindah tangan kepada kok Ciong yang dulunya hanya pendatang dari Tiongkok. Dulunya dia adalah tamu di desa sini. Sekarang, warga Ongkau-lah yang menjadi tamu bahkan buruh di desanya. Percuma mencari siapa yang mesti dipersalahkan. Tak ada faedahnya lagi.
Hemi telah lumayan lama berdiri di tepi jalan menunggu mobil. Mau mobil penumpang atau taksi gelap, tak jadi persoalan. Yang ada di benaknya, yang penting bisa tiba di Manado secepatnya. Ada goresan kerisauan pada wajahnya yang mulai dimakan usia. Umurnya sudah mendekati kepala tiga. Usia yang rawan bagi bujang lalong. Hubungan yang  telah berjalan kurang lebih empat tahun dengan kekasih satu-satunya itu dengan sekuat tenaga dan jiwa dijaganya. Sebab, bila lepas, tak tahulah apa dia bisa menginjak pelamin atau entah nanti. Masa ini adalah masa kritis baginya. Umur tigapuluan akan menjadi masa paling runyam memperoleh pendamping hidup. Tambah lagi, Hemi bukanlah teruna yang tampan atau The Have alias berada.
Sudah sejam Hemi menunggu sambil mengibarkan tangan ke arah setiap mobil yang lewat. Hasilnya masih nihil. Kaki dan punggung kian terasa nyeri. Sudah lama dia curiga bahwa ada penyakit mahal bersarang di tubuhnya. Tapi, enggan dia memeriksakan. Cuma menambah beban pikiran, pikirnya. Tiba-tiba mobil berplat hitam berhenti agak jauh. Dia pun berlari menyusul mobil yang sementara dimundurkan.
“Mnado?” tanyanya begitu tiba di jendela sopir.
Anggukan kecil dari sopir berwajah agak serem itu menyebabkan dia cepat-cepat membuka pintu. Keudikkannya membuat pintu agak lama menyambutnya. “Oto skarang banya smosis,” gerutunya dalam hati. Hanya tiga penumpang dalam kendaraan mewah itu. Pasangan suami istri. Atau, bisa juga pasangan hugel. Di bangku kedua ada seorang anak. Seumuran SD kalau tidak salah taksir. Hemi melemparkan senyum kepada anak kecil itu. Tanggapannya hanya dingin saja.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Itu tandanya sopir masih mengharapkan ketambahan penumpang. Terasa lama mobil berwarna janda itu melewati kampung-kampung di pesisir pantai. Untung saja desa-desa pesisir: Boyong, Blongko dan Sapa’ menawarkan panorama laut yang mempesona. Pantai berkelok-kelok dengan pasir hitam, bebatu besar yang lonjong dan kerikil halus yang bertaburan sanggup mengusir penat kala sang teruna melontarkan pandangan ke arah pantai dan laut. Ada sejuk dan lengang lembut menambat di kalbu. Di ujung bibirnya terlukis senyum. Sesekali terdengar dia menarik nafas untuk menikmati udara dan suasana ramahnya alam.
Mobil tiba-tiba berhenti lagi di desa Radey. Dua orang gadis, terlihat seperti anak kuliahan naik ke mobil. Mereka duduk berdempetan dengan Hemi. Suasana menjadi sedikit riuh. Gadis-gadis ini doyan bergosip rupanya.
“Satu le di muka om, cuma sratus meter dari sini!” kata salah satu gadis  yang baru menghempaskan badan di atas jok mobil. Ada muncul rasa penasaran dalam benak Hemi. Dia bertanya-tanya kira-kira seperti apa rupa gadis di jarak seratus meter di depan. Dia terkeke sendiri memikirkan alasan kenapa muncul pertanyaan itu dalam otaknya. Tak lama kemudian di sebelah kanan tampak seorang gadis membelakangi kami. Tubuhnya ramping dan molek. Kulit putih mulus. Rambut panjang agak pirang tapi alami. Cukup untuk membuat Hemi bergidik. Meski belum tahu tentu keadaan wajah gadis itu sesungguhya. Gadis itu naik dan duduk tepat di sebelah Hemi. Sekilas, terlihat sewaktu dia menaruh kaki pertama di tubuh mobil, gadis itu menarik. Tapi hanya sekilas. Hemi sudah pasti tak berani tarukira benar-benar. Khawatir nanti dikata-katai si gadis rupawan itu. Sudah itu, mobil pun mulai meluncur dengan kecepatan melebihi sebelumnya.
Walau tak ada keperluan di ponsel, Hemi kelihatan sibuk. Mungkin gugup berdempetan dengan si gadis. Bau harum yang masuk ke hidung bak obat penggoda yang mendesak agar segera dia menoleh demi melihat dengan seksama wajah gadis yang sudah bersentuhkulit dengannya. Tapi, hingga kini Hemi tak memiliki keberanian terbilang. Ada pepatah Inggris mengatakan “Faint heart never won a fair lady”. Itupun tak sanggup membangkitkan semangat juangnya. Hemi memang penakut. mana bisa dia dapat gadis cantik!
“Roti?” Hemi memalingkan wajah tergesa ke sumber bunyi suara yang indah itu. Lama berhenti di depan wajah gadis yang ternyata sangat rupawan tersebut. Dan terlihat gamblang umurnya masih belasan. Perlahan wajahnya kembali ke posisi semula setelah  membuat gelengan kecil plus senyum sebagai umpan balik terhadap tawaran gadis itu. Ingin sekali memberi kesan baik. Sebenarnya, mau sekali dia menerima roti dari gadis itu. Tapi baginya, menatap wajah malaikat seksi lebih utama daripada mengambil sekerat roti. Ada sesal dalam hati karena menolak tawaran gadis itu. Namun, rasa senang menggunung karena nampak ada pengertian di wajah gadis itu. 
“Oh ya, kita pe nama Mutiara. Pangge jo Tiara,” kata gadis itu lagi. Hemi menyebut nama sendiri setelahnya. Sayangnya terkesan agak dingin. Itu adalah hal terbodoh yang pernah dia lakukan. Mencoba mempertahankan strategi tarikulur yang dungu itu tanpa mempertimbangkan keadaan.
Saling sentuh tak bisa dihindarkan. Kulit mutiara berasa lembut. Rasa ingin memiliki membesar di hari Hemi. Tapi, mungkinkah pertemuan yang terjadi dalam mobil ini akan melangkah ke jenjang sebagaimana yang dikehendaki  Hemi. Entahlah. Hemi hanya bisa berharap. Sebab, belum ada kisah cinta di dunia nyata seperti itu. Mobil terus berlari menyusuri pinggiran pantai hingga memasuki kota Amurang. Mobil sedikit melambat ketika sampai di pusat kota. Ojek-ojek yang sembarang menyilang membuat berkendara di sini berbahaya. Bahkan troatoarpun diserobot. Bendi-bendi kini sudah jarang terlihat di sini. Semenjak ada kebijakan dan peraturan dari pemerintah daerah, kendaraan tradisional murah nan mungil itu kian tersingkir. Padahal itu adalah daya tarik kota Amurang selain kue dodol dan bageanya. Kenapa ya, pembangunan kini identik dengan penggusuran dan peniadaan sesuatu yang tradisional dan manual. Aparat kita makin berkarakter. Kreatifitas masyarakat dibelunggu. Produk luar disanjung-sanjung. Aneh! Negeri kita banyak impor sampai-sampai hasil bumi kita membusuk di pasar.
“Nda war ni pemerenta ini,” keluh Hemi.
Begitu keluar dari kota bersuhu panas itu, mobil meluncur cepat ke Manado. Lengan Hemi dan Mutiara makin mesra. Rasa kantuk menyerang semua gadis di dalam mobil. Dua di antaranya malah sudah pulas. Sampai-sampai mereka tak sadar buah dada terumbar karena kaos melorot. Mutiara enggan tidur. Takut akan menggangguku dengan plantungan kepalanya. Sikap dingin Hemi membuat Mutiara kini mulai agak menjaga jarak. Rasa sesal timbullah di hati Hemi. Sampai mereka  tiba di Manado, di antara mereka, tidak terjadi percakapan pertemanan apalagi yang sedikit romantis. Mereka turun di halte yang sama. Hemi pun gengsi bicara. Kalau mau bilang karena dia setia kepda pacarnya, itu keliru. Karena hatinya sudah menyeleweng sejak di Radey tadi.
Mutiara dan teman-teman gadisnya ditinggal tanpa pamit atau basa-basi oleh Hemi. Di seberang jalan, walau remang-remang, terlihat mereka masih saja di halte. Entah karena bis belum datang atau karena Mutiara masih ingin melihat Hemi yang terpaut lima meter di seberang jalan darinya. Gelisah melanda hati Hemi saat beberapa kali mereka bertatapan. Berulangkali senyum terlontar dari seberang jalan. Dan, Hemi terlambat membuat keputusan. Ketika mencapai halte dimana Mutiara tadinya berdiri, bis yang ditumpangi Mutiara telah ngebut menuju Pasar Ampalima. Mereka hanya saling menatap sesal. Tapi ada harap, moga di tempo lain bisa bersua lagi. Malam yang berbintang kini seolah pekat.