Rabu, 31 Oktober 2012

Take For Granted



Sebuah cerpen
Oleh Iswan Sual

Sudah empat hari Lebing tinggal di sebuah pulau bernama Marore. Pulau ini adalah pulau terluar utara Indonesia yang merupakan bagian dari Kabupaten Sangihe. Dekat ke kota General Santos daripada kota Tahuna. Apalagi ke Manado. Waktu tempuh Marore ke Manado 18 jam. Sedangkan Marore ke General Santos hanya kurang lebih dua sampai 3 jam. Hari demi hari dilewatinya tanpa ada masalah yang serius. Padahal, sewaktu masih belum berada di lokasi tugasnya itu dia telah disuguhi banyak informasi yang sebenarnya punya potensi untuk membuatnya kalah sebelum berperang. Kata mereka, tak ada sinyal untuk ponsellah, listrik hanya malam, air susah didapat, dan lain-lain. Namun, bukan Lebing namanya jika dia harus menyerah hanya karena diberi informasi seperti itu. Dia cenderung berpikir objektif. Dalam hatinya dia selalu berkata, “Segala sesuatu punya plus dan minusnya.” Bagai sebuah paham Taoisme. Ada Yin dan ada juga Yang. Kalau bilang takut atau khawatir, secara manusia, pasti ada. Namun, buku yang berjudul The Secret rupanya banyak memberinya kekuatan untuk tidak selalu berburuk sangka. Melainkan berpikir positif demi hasil yang positif pula.
Kecuali udara yang super duper panas, semua mengenai Marore disukai Lebing. Kemarin, gara-gara tak bisa tidur di kamar, dia memutuskan berjalan-jalan di tepi pantai berpasir putih. Dia bercakap-cakap dengan penduduk setempat yang ramah-ramah. Lagipula udaranya yang belum terkontaminasi oleh polusi. Di sini tak ada mobil. Sepeda motorpun masih satu dua. Hanya butuh 40 menit untuk bisa mengelilingi luas desa.
***
Tadi pagi setelah sarapan kira-kira jam sembilan dia mulai berjalan keluar dari rumah singgahnya. Sesuai rencana yang dia buat semalam, dia akan ke kantor camat, puskesmas dan sekolah-sekolah untuk meminta data-data. Sedari satu langkah telah tersungging senyum di bibirnya. Dengan begitu seluruh saraf di tubuh akan ikut tercipta aura riang. Jalan setapak selebar dua meter disusurinya. Daun pepohon kelapa, pepaya bergelayut menggapai kepalanya. Samping kiri dan kanan terdapat rawa. Burung weris binatang-binatang air nampak malu-malu berkeriapan kembali ke kubangan. Bahkan rengekkan babi-babi hitam yang baru beranak tertambat. Bunyi-bunyi burung kecil nan nyaring dan lucu turut menambah suasana syahdu mengiringi langkah kaki Lebing ke kantor camat.
Di kantor camat yang dibangun di atas rawa itu lengang.
“Slamat pagi Pak.”
“Oh selamat pagi. Silahkan duduk, De. Ada yang mungkin bisa dibantu?” sambut bapak berambut klimis berperawakan seperti Adji Massaid. Tubuhnya tegap seperti pejuang-pejuang Palestina tanpa senjata. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab mereka dengan sabar dan jujur. Ada juga seorang gadis tenaga honorer yang membantu. Namanya Yethlin Mahmud. Gadis yang menarik. Sewaktu memperkenalkan diri, dengan panjang lebar dia menjelaskan bahwa sebenarnya Opanya adalah orang Tidore Tahuna. Seorang muslim. Namun kemudian anaknya yang ke Marore berpindah menjadi Kristen. Gadis itu terlihat begitu cantik ketika tubuhnya dibalut baju yang resmi. Sepatu berhak tinggi begitu pas di kakinya. Walaupun gadis desa, ketika mengenakkan outfit yang modern, dia nampak seperti gadis kota yang maju pandangannya.
Dari situ selanjutnya aku berpindah ke kantor puskesmas. Tenaga medis melayaniku dengan baik. Tiga orang menjawab dengan sabar setiap pertanyaan yang terlontar. Umur mereka yang tak terlalu jauh dari ku membuat suasana sedikit lebih mencair. Aku disuguhkan es mangga segelas besar. Sudah empat hari aku di sini, dan di tempat itulah aku pertama kalinya dilayani dengan minuman sewaktu bertamu. Tak lama juga aku di tempat itu.
Selanjutnya aku menuju Lindongan tiga. Orang di sini menyebut dusun atau jaga sebagai Lindongan. Seperti yang umumnya digunakan di kampung-kampung Minahasa. Jadi setiap daerah punya penamaanya sendiri. Ini adalah wujud otonomisasi daerah. Tapi sayangnya, di kampung-kampung Minahasa hampir tak ada yang disesuaikan. Seharusnya desa disebut Ro’ong. Kecamatan disebut Pakasa’an, dan Kabupaten dinamakan Walak dan Propinsi disebut Wanua.
Di Lindongan 3 itu terdapat dua sekolah. SMP dan SMA. Kurang lebih 900 meter dari pusat kampong Marore. Tujuanku hanya SMP. Terik yang menggigit aku acuhkan karena keelokkan pantai pasir putih yang dibatasi jalan setapak berdinding. Mirip sekali tembok Cina. Saat langkah demi langkah menapak serasa aku berada di tembok Cina yang dibangun dengan mengorbankan ribuan orang dan dalam waktu bertahun. Bedanya tembok yang aku jejaki dibuat dengan kualitas rendah. Banyak yang telah retak dan berlubang. Asal jadi! Padahal dana-dana bantuan yang dikhususkan untuk daerah perbatasan begitu banyak demi kesejahteraan rakyatnya sendiri. Yang mengerjakan adalah orang kampong. Masih juga dibuat dengan mutu yang rendah. Dua guru menyambut saya dengan gembira. Wakil kepala sekolah begitu ramah. Sewaktu masih berbincang tiba-tiba hujan mengguyur. Namun tak lama berselang. Aku mohon pamit saat tinggal rintik-rintik kecil tak berarti. i
Saat pulang aku mencoba jalan alternatif lain supaya semakin mengenal wilayah dimana aku akan tinggal entah sampai kapan. Senyuman terus mengumbar di bibirku saat aku sudah berada lagi di tepi pantai. Kembali melewati tembok Cina. Jauh di depan terpampang dua pulau yang menonjol, Kemboleng dan Kawio. Di sebelah kiri, secara samar terpajang juga sebuah pulau tak berpenghuni yang bernama Mamanuk. Seirama kaki dan tangan bergerak, aku menyadari ada sesuatu yang kurang. Ya Tuhan! Aku lupa sesuatu. Map berisi formulir tertinggal di meja ruangan guru. Untung aku dengan sekolah hanya terbentang jarak kurang lebih 200 meter. Tak ada pilihan. Aku harus segera kembali. Mumpung jam sekolah belum berakhir. Lantai santai kini berubah menjadi langkah tergesa. Tak sampai dua menit aku telah tiba di sekolah dan mengambil map berwarna  biru yang tergeletak tepat di sisi tumpukan berkas dan buku-buku pegangan guru. Aku keluar dari ruangan guru. Melewati lapangan basket. Saat melewati SMA yang berdampingan dengan SMP terdengar tepuk tangan dan siutan yang disertai ledakkan canda tawa. Aku melarang kepalaku menoleh. Tepuk tangan, siutan terus saja.
“Anak-anak ini tidak diajarkan tatakrama! Masakan, aku seorang tamu diperlakukan seperti ini?” kecamku dalam hati. Dengan terpaksa aku menoleh ke arah darimana tepuk tangan dan siuatan itu. Sewaktu leher berputar 90 derajat yang kulihat bukanlah murid-murid yang nakal melainkan guru atau mungkin pegawai berseragam batik. Tampak begitu jelas bahwa mereka adalah orang-orang dewasa. Benakku penuh tanda tanya, “Kok bisa ya?”
Kembali lagi aku menyusuri jalan yang sama. Rasa kesal dilecehkan terobat oleh panorama pantai dan laut. Begitu biru airnya. Riak-riak berbuih turut menenangkan suasana hati. Aku mulai hanyut oleh belaian angin sepoi-sepoi. Di belakangku terdengar raungan sepeda motor. Begitu aku menoleh, kulihat dua sepeda motor. Ada tiga penumpangnya. Semuanya berseragam persis seragam yang digunakan pegawai yang iseng padaku. Cepat sekali sepada motor melaju. Dan tiba-tiba…
“Kak!” seorang gadis berkulit putih berteriak padaku sambil menunjukkan jarinya. Ya aku kenal perempuan itu. Dia adik angkatanku sewaktu masih kuliah. Salah satu yang pernah menjadi sasaran perpeloncoan. Sayangnya aku lupa namanya. Gadis blasteran bertubuh semampai. Tapi…dia masih gadis atau sudah menikah ya? Kurang tahu. Dia tak begitu kuperhatikan sewaktu di kampus. Memang sewaktu kuliah dulu mataku tak pernah beralih bila dia lewat di depan kelasku. Tapi, dia tak pernah dekat denganku. Barangkali, karena faktor perbedaan jurusan dan tak aktif di organisasi. Waktu itu aku berpikir tak ada pentingnya dekat dengan dia. Tambah lagi minat kami tak sama. Dia bukan tipe mahasiswa yang suka berorganisasi di kampus.
Gadis…perempuan itu lalu begitu saja. Kata “Kak” yang diucapkan paling tidak aku balas dengan “Hai”. Sepeda motor buru-buru membawa. Akupun tak berharap banyak. Aku meneruskan perjalanan sembari sesekali mengambil gambar pemandangan dengan kamera ponselku. Sesampai di tempat tinggalku, kulempar tas di atas kasur diiringi desahan panjang sebagai bentuk ekspresi manusia yang sudah kelelahan, kepanasan dan kelaparan. Tanpa ganti baju aku langsung menuju ke warung untuk membeli dua butir telur ayam.
“Kak!” dengan gerak reflek kepalaku mencari sumber suara.
Ya ampun! Gadis…perempuan di atas sepeda motor yang menegurku ternyata tinggal di depan tempat tinggalku. Kami hanya dipisahkan oleh tanah berjarak kurang dari sepuluh langkah. Dia datang mendekat. Seragam batik kecoklatannya tak lagi melekat di tubuhnya. Dia kini dibalut pakaian “Baby Doll”. Kegadisannya begitu kentara. Bentuk badannya masih menyiratkan bahwa dia masih gadis. Kami bicara banyak. Sangat ramah. Setelah pertemuan itu, dia sering ke tempat tinggalku. Membawakan makanan dan perhatian. Ya Tuhan! Orang yang tak begitu aku kenal dan tak dekat bertemu denganku di pulau terpencil. Dia begitu baik padaku. Aku sedikit merasa berdosa. Dulu aku berkawan demi sebuah manfaat dan keuntungan, take for granted. Justru orang-orang yang tak sedikitpun kita beri perhatian bisa menjadi sahabat atau malaikat di saat kita susah atau kesepian.




Cerpen


Rindu kepada Filip
Sebuah Cerpen
Oleh Iswan Sual

Sepulang sekolah Filip langsung tidur-tiduran di kamarnya. Melepas kepenatan oleh degungan sisa-sisa gaduh murid-muridnya yang susah diatur di sekolah. Filip adalah seorang guru honor yang telah tiga tahun mengabdi di kampungnya. Sewaktu menawarkan diri untuk mengajar di sebuah SD dan SMP di kampungya, dia urung membicarakan soal gaji. Yang ada di benaknya adalah bagaimana agar bisa mengajar anak-anak kampung. Seolah dia punya nasar bahwa tiga tahun dia akan mengajar di bekas sekolahnya itu. Katanya, dia ingin bertemu guru-guru yang pernah mengajarinya, terlebih bertemu dengan guru yang sudah meninggal tiga tahun lalu−Herdi Bella. Guru Bahasa Inggris dan Pendidikan pancasilanya. Aneh, sudah meninggal tapi ingin ditemui. Lebih aneh lagi kenapa ke sekolah bukan kuburnya? Aku sendiri tak mengerti dengan jalan pikiran kakakku itu. Dia suka mengajar tapi ingin menjadi guru PNS. “Kalu torang so jadi PNS, so nyanda tulus torang mengajar. Yang torang pikir korang gaji. So nyanda bisa kreatif. Karena kreatifitas tak diperlukan dalam lembaga yang talalu strukturalis. Jabatan adalah segalanya. Profesionalitas cuma slogan.  Kepatuhan, yes bos, itu yang lembaga itu perlu. Kalu ngana PNS itu harga mati. Beda to kalu ngana cama guru honor?Kata Filip sewaktu aku coba-coba mengorek masalah itu di suatu sore.
Tapi yang kulihat dia sangat menikmati pekerjaannya. Dengan gaji yang jauh di bawah Upah Minimum Propinsi tak menghalanginya untuk berbagi. Tidak jarang aku diberi uang. Bahkan murid-muridnya, yang tak punya alat tulis menulis atau kamus, dibelikannya. Orang lain tunggu kaya dulu baru memberi. Dia justru dengan gaji empat ratus ribu sering memberi. Presiden sudah  gaji besar ditambah tunjangan tak terbilang pula, masih saja melobi ke DPR agar minta dinaikan gajinya.
Aku bangga punya kakak seperti Filip. Orang yang terus memberi meski dari kekurangannya. Andai saja petinggi di negeri ini seperti dia, barangkali sudah hampir setengah abad tak yang miskin di Indonesia.
“Nawsi, mulai sekarang, ngana yang jemput papa di kobong kalu so pulang skola,” kata Filip di kala aku baru bangun dari tidur di suatu pagi.
Dahiku penuh kernyitan ketika mendengar kalimat pendek nan padat itu. Dia pun terus menerus memandangi aku yang berbalut seragam putih abu-abu. Tatapan bangga dan penuh harap. Padahal di sekolah begitu urak-urakan dan belum sedikitpun apa masa depan yang selalu Filip bilang.
“Apa penghalangnya hingga dia takkan lagi menjemput ayah setiap sore di kebun?  Apakah dia sedang sakit? “ tanyaku dalam hati dengan penasaran.
Ah entahlah. Enggan aku bertanya. Tak ingin aku mendengar kalimat-kalimat lain yang sarat makna dan nasihat keluar dari mulutnya. Bukan karena aku meremehkan semua itu. Otakku saja yang tak bisa mencerna. Rasanya sudah cukup semua petuah yang diucapnya. Yang perlu dilakukanku sekarang adalah menunaikannya.
Tambah lagi, kedalaman berpikir kakakku terlampau di luar jangkauanku. Mungkin buku-buku yang terpajang di lemari telah merubah dia menjadi orang yang berkepribadian lain. Seorang yang terlampau intelek di udik yang terisolasi ini. Bak Swami Vivekananda atau Rabindranath Tagore di India.
Dulu sewaktu masih kecil-kecil di antara kami tiada batas. Kami bermain bersama. Lama sudah itu segalanya berubah. Dia tak lagi suka bermain. Lebih tertarik bercokol kitab-kitab tebal. Tinggal senyum ramah dan kata-kata penyemangat yang belum pergi dari dirinya. Dia tetap hanyat dan bersahabat. Hanya…
“Besok, kita berangkat ke Makassar. Pra-tugas sebagai Fasilitator Program Pemberdayaan Masyarakat,” penjelasannya menambah kebingunganku. Deretan kata-kata di kalimat terakhir terasa asing. Hanya dia yang paham. Mulutku yang terbuka ditemani mata melotot berpura-pura menunjukkan pengertian dan pemahaman. Tidak tahunya aku seperti seorang wisatawan asing yang buta trein sama sekali. Mudah dibodohi oleh orang-orang setempat yang suka iseng.
***
Sekarang Filip telah berada jauh dari kami. Karena pekerjaan dia dan kami terpisah oleh samudera yang luas.Setelah kepergiannya pada hari minggu, kini aku sadar. Tanggungjawabnya telah beralih padaku. Kemangkirannya menjadikan aku anak tertua di keluarga ini. Kini aku insyaf seperti apa menjadi seorang kakak dalam keluarga. Beban dan tanggungjawab dipikulnya sendiri.  Aku juga sadar selama ini aku menjadi beban baginya. Tapi tak dikeluhkannya. Filip kakakku, aku merindukanmu. Meski di sana, ingatlah aku selalu bangga padamu. Kaulah suri teladanku.

Marore, 10 Oktober 2012
Pukul  19.57

Kumpulan Puisi Engrike Keintjem (Siswi kelas 9 SMP Kristen Tondei)


Uang

[Engrike Keintjem]

Saat aku ingin berbelanja
Kaulah yang selalu ku beri
Kau sangat berguna bagi kami
                Uang,
                Kau selalu ada di mana-mana
                Bahkan di dompet ayahku
                Kau juga ada
Uang,
Kaulah sumber kebutuhan kami…
Semua orang bekerja keras
Hanya untuk mendapatkan
Engkau…
                Uang,
                Tapi kadang kau yang menjadi
                Sumber masalah bagi kami
                Banyak orang yang selalu salah
                Menggunakan engkau
Baik untuk kejahatan, pembunuhan
Dan banyak orang juga yang
Menjadi berdosa karena selalu
Mengambil engkau dari orang lain
                Uang,
                Banyak orang yang telah
                Memiliki engkau…
                Tapi,…
                Banyak orang juga tidak
                Memiliki engkau
Uang,
Aku selalu ingin kau selalu
Ada untuk semua orang…
Dan, menjadi sumber kehidupan
Bagi kami
                Uang,
                Teruslah ada untuk kami
                Agar kami bias terus
                Hidup…dan menikmati
                Indahnya hidup

Tondei, Rabu 5/9/2012


Alam

Saat ku rasakan nyamannya
Tinggal di dekatmu…
Aku selalu ingin terus-menerus
Berdekatan denganmu
                Alam, karena dirimulah aku
                Sering mendapat inspirasi
                Aku menggunakan dirimu
                Sebagai tempat pengetahuanku
Tapi, kadang kala
Kebanyakan orang sering
Merusak engkau dan
Menjadikan engkau
                Sebagai tempat pelampiasan mereka
                Karena itu juga yang menciptkan
                Sering marah karena ulah kami
Alam, maafkanlah kami
Karena sering memperburuk dirimu…
                Alam, teruslah bersamaku
                Di akhir hayat nanti

6/9/2012
6/9/2012

Pramuka

Dari banyaknya kegiatan
Sekolah yang ada
Hanya kaulah yang
Sangat kugemari
                Pramuka
                Kau selalu mengajarkan aku
                Akan rasa kekompakkan, persaudaraan
                Bahkan kebersamaan
Pramuka
Kau juga mengajarkan aku
Tentang kemandirian dan
Tidak bergantung pada orang lain
                Jiwa pemberani, penolong, ksatria
                Pahlawan selalu ada padamu
Pramuka
Kau mengajarkan aku
Tentang rasanya berbagi
Kepada sesame teman
                Teman
                Teruslah melekat pada diri
                Dan jiwaku
6/9/2012

Nasihat

Pada waktu ayahku
Mengajarkan artinya engakau…
Pada waktu itu juga
Aku sering menghiraukan engkau…
                Tapi, apa yang sering aku
                Dapat saat menghiraukan
                Engkau
Aku sering mendapat
Ganjaran yang setimpal
Karena sering menghiraukan
Engkau…
                Nasihat
                Maafkalah aku karna sering
                Tidak  menghiraukan engkau…
                Aku akan berjanji tuk
                Tidak menghiraukan engkau lagi…
Karena tanpa kau
Hidupku terasa tak
Berguna…
6/9/2012

Ilmu

Ilmu bagaikan perisai bagiku
Kemanapun ku berada
Ku selalu membutuhkan engkau….
                Kau selalu membuat diriku
                Terasa berani dan kelihatan
                Seperti dihormati
Ilmu
Setiap orang yang bertanya
Tentang apapun aku
Selalu terlihat brani menjawabnya…
Itu semua karna kau
                Selalu bersarang di diriku
                Kau membuat diriku selalu
                Ingin tahu tentang apapun
Ilmu
Tanpa dirimu aku terlihat
Seperti orang yang bodoh
                Ilmu
                Teruslah ada padaku dan
                Tetap bersarang di diriku

6/9/2012

Sepatu

Ketika diriku ingin pergi
Ka selalu ada bersamaku…
Kau coba melindungi kakiku
Agar tak terkena panas…
                Sepatu
                Tanpa dirimu aku tak berani
                Keluar rumah..
                Kau selalu rela dirimu saja
                Yang terkena panas
Kau selalu ku injakkan
Kemanapun ku berada
Bahkan dengan semau
Keinginanku sendiri
                Sepatu
                Kau selalu menemani harihariku
                Bahkan kau tak bosanbosannya
                Bersamaku
Sepatu
Teruslah menjadi sahabatku
Sampai aku tua nanti

Tondei ,7/9/2012

Bendera

saat ku mulai bersekolah
aku sering melihat dirimu
yang selalu berkibar tanpa
henti-hentinya
                setiap hari senin kami
                mengadakan upacara…hanya
                untuk mengenang jasa-jasa orang
                yang telah mendirikan engkau…
bendera
kau adalah lambang kemerdekaan kami
kau adalah lambang negara kami dan
kau adalah lambang keberanian
dan kesucian kami
                bendahara
                teruslah berkibar di ujung
                tiang yang tinggi di
                Negara tercinta ku ini

Tondei ,7/9/2012

Musik

Saat diriku merasa kesepian
Kau selalu ada untuk ku
Dengar…
Kau selalu menjadi sumber inspirasi bagiku…
                Kau seolah-olah membawaku
                Ke duniamu dan mengikuti
                Irama jejak hidupmu…
Kau selalu membuatku
Merasa bahwa aku
Sama seperti dirimu
Yang selalu membuat
                Nada-nada yang indah
                Lagu-lagu yang merdu
                Bahkan
                Bunyi-buyi yang memukau hati
Musik
Selalu jadikan diriku
Sama sepertimu
Agar ku bias rasakan
Bagaimana jadi dirimu

Tondei ,7/9/2012

Mimpi

Saat aku ingin tidur
Aku selalu ingin kau
Datang menghampiriku…
                Aku ingin melihat apa
                Yang ingin aku lihat…dan
                Tak pernah ku lihat
Mimpi
Tanpa dirimu aku sama
Seperti dengan orang
Yang tak punya
Kebahagiaan dan kesuksesan
                Mimpi
                Tak semua orang bisa kau
                Datangi… tapi, aku
                Berharap kepada Tuhan
                Agar ka uterus mendatangiku
Setiap malam, bahkan
Setiap waktu…
Selalulah menjadi
Bunga tidurku

Tondei ,7/9/2012

Negara

kau tempat di mana
aku tinggal dan
di mana aku bertedu…
                kaulah tempat aku mengabdi
                dan tempatku mencurahkan
                isi hatiku
Negara
Jika kau tak pernah ada
Di manakah aku
Tinggal, dimanakah aku
Mengabdi…
                Negara
                Kau sangat ku dambakan
                Kau sangat ku cintai
                Dan kau sangat kukagumi
Negara
Teruslah menjadi kebanggaanku
Dan teruslah menjadi
Tempat tinggalku

Tondei ,7/9/2012

Senyum dan Semangat

Senyum
Kau bagaikan semangat bagiku
Di saat ada yang
Mematahkan semangatku
Tapi aku selalu melawannya
Dengan senyuman…
                Semangat
                Di saat ku mulai
                Lelah akan hidup ini
                Kau selalu mengingatkan
                Aku akan apa artinya
                Senyuman
Senyum
Teruslah menjadi semangatku
Dan
Semangat
Teruslah menjadi senyumku…

Tondei, 8/9/2012

Kupu-kupu

Aku sangat ingin sepertimu…
Kau bisa terbang, melayang,
Bahkan kau bisa apa
Yang ku tak bisa
                Kupu-kupu
                Ajarkanlah aku sama seperti
                Yang bisa terbang…dan
                Menikmati indahnya hidup ini
                Tanpa ada beban sedikitpun
Kupu-kupu
Sering aku katakana kepada
Orang-orang di sekitarku bahwa
Indahnya dan begitu
Senangnya menjadi dirimu
                Kupu-kupu
                Bawalah aku terbang
                Bersamamu dan jangan
                Antar aku pulang kembali…

Tondei, Selasa 11/9/2012

Lautan

Saat ku lihat engkau
Aku sering mengatakan
Betapa menakjubkannya
Engkau…
                Airmu yang segar…membuat
                Orang-orang sering terpesona akan
                Keindahanmu…
Ombakmu yang indah
Dilihat juga membuat
Aku kagum melihatmu…
                Tapi, terkadang ketika
                Tuhan marah karna kecerobohan
                Kami…kau selalu menjadi sumber
                Ketakutan bagi kami
Airmu yang segar terkadang
Masuk ke rumah-rumah warga
Ombakmu yang indah juga
Menghantam rumah-rumah warga
Dan itu membuat kami takut
                Lautan
                Janganlah menjadi bencana bagi kami
                Tapi, jadilah sumber kehidupan
                Dan ,kesenangan bagi kami…

Tondei, 11/9/2012